SAINT MARY'S WAY
Saint Mary’s Way adalah salah satu program istimewa yang diadakan oleh sekolah kami pada tahun ini. Program ini bertujuan untuk mengajak para siswa belajar berbagi, melayani, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama, terutama kepada mereka yang sudah lanjut usia. Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, saya dan teman-teman ditugaskan untuk melakukan kunjungan ke sebuah panti wredha.
Sejak beberapa hari sebelumnya, kami sudah berdiskusi dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Kami sepakat untuk berkumpul dan berangkat bersama pada pukul 10 pagi. Begitu tiba di lokasi, suasana panti terasa sangat tenang namun hangat. Beberapa oma-oma sudah duduk rapi menunggu kedatangan kami. Melihat mereka tersenyum menyambut kami membuat hati saya merasa sangat terharu.
Setibanya di sana, kami langsung membagi tugas agar acara berjalan dengan baik. Ada yang bertugas memimpin doa, ada yang memperkenalkan diri, ada yang menyiapkan permainan, dan ada pula yang bertugas mendampingi oma-oma selama kegiatan berlangsung. Walaupun sederhana, kami berusaha memberikan yang terbaik agar mereka merasa dihargai dan disayangi.
Acara dimulai dengan doa bersama. Kami memohon agar kegiatan hari itu berjalan lancar dan dapat memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Setelah berdoa, kami memperkenalkan diri satu per satu. Para oma mendengarkan dengan sangat antusias. Sesekali mereka tersenyum atau memberi komentar kecil yang membuat suasana semakin akrab.
Selanjutnya kami melanjutkan dengan bernyanyi bersama. Lagu-lagu sederhana yang kami bawakan ternyata membuat suasana berubah menjadi lebih ceria. Beberapa oma bahkan ikut bernyanyi sambil mengikuti irama dengan tepuk tangan. Melihat mereka begitu bahagia membuat saya merasa senang dan bersyukur. Rasanya seperti ada energi positif yang mengalir di antara kami.
Setelah itu, kami bermain beberapa permainan ringan yang bertujuan menghibur sekaligus membuat para oma lebih aktif. Ada permainan oper oper bola, dan beberapa permainan lain yang membuat mereka tertawa. Momen ketika saya melihat wajah-wajah para oma dipenuhi tawa adalah momen yang tidak akan saya lupakan. Dari sana saya benar-benar merasakan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana.
Pengalaman berada di panti wredha membuat saya merasakan kasih sayang yang sangat mendalam. Para oma menyambut kami seperti cucu sendiri. Mereka memberi pelukan, nasihat, dan cerita-cerita masa lalu yang begitu berharga. Ada yang bercerita tentang masa mudanya yang penuh perjuangan, ada yang menceritakan kenangan keluarga, dan ada pula yang berbagi hikmah mengenai kehidupan dan ketaatan kepada Tuhan. Konseling kecil yang mereka berikan terasa begitu tulus, seolah muncul dari pengalaman panjang hidup mereka.
See:
Pada tanggal 11 September 2025, tepat saat pelaksanaan kegiatan tersebut, saya merasa sangat beruntung. Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi panti wredha, dan ternyata pengalaman ini membuka mata saya tentang arti berbagi dan melayani. Saya belajar bahwa setiap orang, khususnya mereka yang sudah lanjut usia, membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan teman untuk berbicara. Saya juga belajar bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa membawa kebahagiaan besar bagi orang lain.
Judges:
Dalam kegiatan ini, saya juga berusaha menerapkan nilai-nilai spiritualitas Bunda Maria. Bunda Maria adalah teladan dalam hal kerendahan hati. Ia tidak pernah membanggakan dirinya meskipun terpilih menjadi ibu dari Tuhan Yesus. Ia menerima kehendak Tuhan dengan penuh syukur, tanpa mengharapkan pujian atau imbalan. Nilai ini yang saya coba terapkan selama kegiatan: melayani dengan hati yang tulus, tidak sombong, dan tidak mengharapkan balasan apa pun.
Selain kerendahan hati, saya juga belajar tentang sikap setia. Bunda Maria menunjukkan kesetiaan sejati kepada Tuhan sejak awal hingga akhir hidupnya. Ia setia merawat, mendampingi, bahkan berada di sisi Yesus ketika disalibkan. Dari teladan itu, saya belajar untuk setia pada tugas yang diberikan, setia pada tanggung jawab, dan setia pada ajaran Tuhan. Dalam kunjungan ke panti wredha, saya mencoba untuk hadir sepenuh hati, mendampingi para oma, dan memberikan perhatian yang mereka butuhkan.
Act:
Pada bagian Act, saya menyadari bahwa melalui kunjungan ini saya dapat ikut mendoakan dan mendukung para oma, sama seperti Bunda Maria yang mendoakan keluarga Elisabet. Saya merasa terpanggil untuk membawa kasih Tuhan kepada orang lain lewat tindakan sederhana—seperti berbicara dengan lembut, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar duduk menemani. Ke depan, saya ingin menjadi pribadi yang lebih bersyukur, lebih menikmati berkat Tuhan, dan lebih peka terhadap kebutuhan sesama.
Kegiatan Saint Mary’s Way ini bukan hanya menjadi tugas sekolah, tetapi menjadi pengalaman berharga yang membentuk hati dan karakter saya. Saya belajar bahwa melayani sesama adalah salah satu cara untuk menyatakan kasih Tuhan kepada dunia. Saya berharap pengalaman ini terus mengingatkan saya untuk selalu rendah hati, setia, dan penuh kasih dalam setiap.